Fatwa Baru untuk Umat Islam di Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Bagaimanakah Anda berpuasa Ramadhan bila berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam? Misalnya, seperti yang terjadi di Kota Tromso, di jantung wilayah utara Norwegia. Pada periode akhir Mei hingga akhir Juli, kota kepulauan yang dikelilingi pegunungan yang tertutup salju ini mengenal apa yang disebut fenomena ‘matahari tengah malam’, yakni matahari tidak terlihat terbenam hingga tengah malam. Di kota yang berada sekitar 250 km sebelah utara Lingkaran Arktik, Norwegia, ini kini terdapat sekitar 1000 Muslim.
Atau, bagaimana Anda berpuasa di negara yang waktu siangnya sangat panjang hingga mencapai 21 jam seperti di Denmark, Swedia, Norwegia, dan Islandia?

Subhanallah. Maha Suci Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan siang dan malam serta sore dan pagi. Maha Suci Allah, yang telah menciptakan waktu yang berbeda-beda di antara negara-negara. Pada bulan Ramadhan sekarang ini misalnya, ada negara yang siangnya sangat panjang dan sebaliknya ada pula negara yang siangnya sangat pendek.

Di Denmark misalnya, durasi waktu fajar hingga Magrib mencapai 21 jam, sementara di Swedia, Norwegia, dan Islandia rata-rata mencapai 20 jam, di Inggris 18 jam 59 menit, dan di Jerman 18 jam 9 menit.  Sedangkan di Argentina jarak waktu fajar hingga Maghrib hanya 12 jam 21 menit, di  Brasil dan Cile 12,5 jam hingga 13 jam. Di Kanada 18 jam 9 menit, sementara di Amerika Serikat, tepatnya di Washington DC durasi fajar hingga Maghrib 16 jam 44 menit.

Sedangkan di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi 16 jam 13 menit, Uni Emirat Arab 15 jam 23 menit, dan Kuwait 15 jam 59 menit. Namun, di bulan Ramadhan ini suhu udara di negara-negara ini diperkirakan bisa mencapai di atas 50 derajat celsius alias setengah panas air mendidih. Sementara itu di negara-negara Afrika, seperti di Mesir, Tunisia, dan Aljazair jarak waktu fajar hingga Maghrib mencapai 16-17,5 jam tiap hari.

Bagaimana di India dan Pakistan? Di dua negara itu jarak waktu fajar hingga Maghrib mencapai 17 jam dan 16,5 jam. Sedangkan di wilayah Asia-Rusia waktunya hampir sama dengan di Eropa, yakni 20 jam 49 menit. Durasi paling pendek terjadi di Australia, yakni hanya 10 jam.

Lalu bagaimanakam umat Islam di negara-negara tersebut menjalankan puasa Ramadhan sekarang?

Kata Sheikh Hussein Muhammad Halawa, Sekjen Majelis Eropa untuk Fatwa dan Riset (The European Council for Fatwa and Research/ECFR), Islam itu agama yang mudah. Mengutip surat al Baqarah 185, ia mengatakan, ‘‘Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’’

Di ayat sebelumnya, al Baqarah 184, Allah SWT berfirman, ‘‘Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.’’

Atas dasar ayat Alquran itu, lanjut Sheikh Halawa sebagaimana dikutipAljazeera.net, ECFR perlu mengeluarkan fatwa untuk umat Islam yang berada di Eropa, terutama di negara-negara yang siangnya sangat panjang. Fatwa ini dirilis setelah ECFR mengadakan konferensi internasional di Dublin, ibukota Irlandia, pekan lalu.

Konferensi ini melibatkan para ulama, ahli fikih, psikolog, dokter, dan ahli falak. Sebelum pertemuan, delegasi ECFR telah pergi ke wilayah utara Swedia dan Norwegia, di mana matahari tidak pernah terbenam. Sheikh Halawa menyebut fatwa yang dikeluarkan ECFR kali ini adalah ‘fatwa baru untuk umat Islam Eropa’.

ECFR merupakan sebuah lembaga yang berbasis di Dublin. Ia dibentuk di London pada 1997 oleh Federasi Organisasi-organisasi Islam di Eropa (Federation of Islamic Organizations in Europe/FIOE). Salah seorang penggagasnya adalah Sheikh Yusuf Qardhawi, ketua Persatuan Ulama Dunia. Anggota ECFR terdiri dari para ulama dan cendekiawan Muslim.

Di antara fatwa yang baru dirilis terkait umat Islam yang berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam, adalah agar mereka mengambil waktu di hari-hari yang siang dan malam sama panjang, sebagai ukuran menentukan waktu puasa dan shalat di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, waktu-waktu ibadah puasa Ramadhan disesuaikan dengan bulan-bulan di mana durasi siang dan malam sama.

Sedangkan di negara-negara yang malamnya sangat pendek di mana tanda fajar tidak jelas dan tidak cukup untuk shalat Isya, tarawih, sahur, ECFR menfatwakan dua hal. Pertama, melihat hari terakhir di mana tanda terbit dan tenggelamnya matahari, serta waktu Isya cukup jelas, untuk dijadikan pedoman waktu-waktu ibadah Ramadhan. Waktu yang demikian biasanya terjadi pada akhir April atau awal Mei.Kedua, untuk umat Islam di negara-negara di mana malamnya sangat pendek, diperbolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan sahur dan shalat fajar (subuh) sebelum 1 jam 5 menit dari terbitnya matahari.

Tentang pendapat bahwa di negara-negara yang siangnya sangat panjang untuk berpedoman kepada waktu Mekah di dalam menjalankan ibadah puasa, menurut Sheikh Halawah, memang ada pandangan yang demikian. Namun, lanjutnya, pendapat itu adalah ijtihad perseorangan ulama tertentu, dan tidak boleh diambil sebagai petunjuk untuk masyarakat. Alasannya, tanda shalat lima waktu di Makkah sepanjang tahun sangat jelas. Ini berbeda dengan di Eropa.

Karena itu di negara-negara Eropa yang siangnya sangat panjang, ECFR memberi fatwa tidak boleh menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar karena tandanya sudah jelas. Sedangkan shalat Magrib, Isya, dan tarawih boleh dijamak dalam satu waktu lantaran tanda waktunya tidak jelas.

Sedangkan bagi negara-negara yang tanda waktu Isya jelas namun sangat dekat dengan fajar (subuh), maka dimungkinkan untuk shalat Maghrib dan kemudian langsung shalat tarawih sebelum Isya dengan tenggat waktu 45 menit. Setelah tarawih lalu shalat Isya. Shalat tarawih dimungkinkan lebih dahulu dari Isya, lantaran tarawih dibolehkan dilaksanakan kapan saja di waktu malam.

Mengenai umat Islam yang menemukan kesulitan untuk berpuasa di siang yang panjang, Sheikh Halawa menegaskan, Islam adalah agama yang mudah.  Bagi mereka yang tidak kuat berpuasa oleh suatu sebab, termasuk siang yang panjang, diperbolehkan untuk tidak puasa dan menggantinya di hari yang lain. Namun, Sheikh Halawa menekankan bahwa puasa adalah ibadah imaniyah ruhiyah alias puasa itu untuk mengukur keimanan seseorang.

Dengan begitu, kuat atau tidak kuat seseorang berpuasa kembali kepada yang bersangkutan. Dialah yang bisa mengukur dirinya. Namun, kalau ia tidak puasa dengan sengaja dan tidak ada alasan apa pun, ia juga yang merugi, karena puasa adalah urusan hamba dengan Tuhannya.

Menggarisbawahi fatwa baru untuk umat Islam di Eropa dari ECFR itu, saya ingin menyampaikan beberapa catatan. Pertama, Islam itu agama yang mudah tapi jangan digampangin. Kedua, Islam akan selalu sesuai dengan zaman, tempat, dan kondisi. Ketiga, semua ibadah adalah terkait antara hubungan hamba/manusia dengan Tuhannya. Karena itulah, ibadah pada hakikatnya adalah untuk mengukur tingkat keimanan seseorang secara individu.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga dengan berpuasa Ramadhan dan ibadah-ibadah terkait lainnya bisa menjadikan kita sebagai manusia yang lebih berkualitas. Amin.

Posted in Materi Keislaman | Leave a comment

Buka Bersama Puasa Ramadhan SGB Utrecht

Pada hari sabtu tanggal 20 Juni 2015, diselenggarakan buka bersama warga muslim Utrecht dan sekitarnya di gedung SGB Utrecht.  Dalam acara ini, seorang pemuda warga Belanda yang masih berusia 21 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat di depan puluhan jamaah dengan dibimbing oleh Ustadz Siswanto.  Alhamdulillah, bertambah satu lagi saudara seiman kita di bulan yang penuh berkah ini.

Acara buka puasa bersama ini rutin diselenggarakan setiap hari sabtu selama bulan Ramadhan oleh SGB dengan merangkul seluruh elemen masyarakat dan PPI Utrecht. Menurut penuturan ketua SGB, Supardi Hassanudin, acara ini diharapkan dapat mempererat kekeluargaan dan persaudaraan warga muslim Indonesia yang tinggal di Utrecht. Selain itu, buka bersama ini juga dihadiri oleh komunitas muslim Belanda.

Acara dimulai dengan tilawah bersama yang dipimpin oleh Ustadz Siswanto kemudian dilanjutkan dengan tausyiah tentang pentingnya membersihkan hari di bulan Ramadhan.

 

Posted in Liputan Kegiatan | Leave a comment

Pembelian dan Pemasangan Karpet Baru SGB

Alhamdulillah, telah terkumpul infaq sebesar 3312,11 euro dari para donatur untuk pembelian karpet baru ruangan SGB Utrecht. Kami telah membeli karpet masjid di Antwerpen Belgia sebesar 3075 euro untuk ukuran 133 m2 dan dipasangkan pada awal bulan April 2015.

Untuk itu kami atas nama pengurus mengucapkan “Jazakumullah khairan katsiran” kepada para donatur yg telah meng-infak-kan hartanya untuk pembelian karpet ini dan kepada seluruh jama’ah yang berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti pemasangan karpet. Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yg berlipat, dan setiap kali orang-orang yg memakai karpet tersebut untuk sholat dan sujud kepada Allah SWT, semoga pahalanya juga mengalir kepada para donatur dan relawan.

Berikut dokumentasi kegiatan pemasangan karpet baru SGB. Terima kasih kepada semua ikhwan yang turut berpartisipasi dalam kerja bakti dan kepada akhwat yang telah mendukung dengan penyediaan konsumsi.

Salam,

Posted in Liputan Kegiatan | Leave a comment

Idul Adha di Utrecht, Oktober 2014

 

Suasana Idul Adha yang penuh keakraban di SGB Utrecht. Sholat Idul Adha dilaksanakan pada Hari Sabtu, 4 Oktober 2014 pukul 09.30 CET hingga selesai dengan Imam / Khotib Ustadz Dadan Sidqul Anwar.

Acara dimulai dengan shalat ied berjama’ah dan dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan silaturrahim warga dan mahasiswa muslim Indonesia di Utrecht dan sekitarnya.

Mari belajar dari keikhlasan Ibrahim, kesabaran Ismail, dan cinta Hajar

 

 

 

Posted in Liputan Kegiatan | Leave a comment

Pengaruh Individu Dalam Kemajuan Umat

Oleh : Agus Purwanto

Diri kita sebagai bagian terpenting dalam kelangsungan sejarah umat manusia dan Islam khususnya. Indivindu muslim adalah pelaku sejarah dan kebangkitan umat Islam, sekaligus mempunyai andil besar bagi kelangsungan kalimatullah dimuka bumi ini.

Sebuah umat tidak akan terlepas dari individu muslim dalam meraih kesuksesan. Apabila umat itu sakit maka sudah barang tentu individunya terserang penyakit. Hilangnya wibawa hukum, undang-undang, negara, peradaban manusia, juga tidak terlepas dari penyakit individu. Apabila rusak akhlak sebuah negara dan tatanan masyarakat, biasanya tersebar dari individu yang terkena penyakit hati dan akhlaknya, kemudian  menular keseluruh lapisan masyarakat.

Islam adalah merupakan agama yang lengkap dengan syariat, menyuruh kepada keseimbangan hidup serta menata kekuatan yang berbeda dalam masyarakat.  Hingga terbentuk sebuah bangun umat kuat dan kokoh, tidak ada kelemahan atau celah dan kegamangan.

Terbntuk dari pada sistim masyarakat yang mempunyai kehidupan secara ekonomi, akhlak masyarakat kuat, membersihkan jiwa dan mendidik nafsu. Sehingga terbangun sebuah ikatan yang saling menghasihi dan menopang satu sama lainnya.

Pada titik terpentingnya nanti adalah membentuk kepribadian muslim yang mempunyai kekuatan masing-masing individu, baik itu kekuatan ruhnya, akhlaknya, jasmaninya. Maka nabi sangat menyukai seorang muslim yang kuat dari pada muslim lemah. Sebagaimana sabdanya “ Muslim yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah”.

Dalam masyarakat sekarang ini, sangatlah krusial penyakit yang terjadi di tengah masyarakat modern.  Tidak akan terbentuk sebuah kebangkitan dan tidak akan berbuat banyak, hanya jalan di tempat. Karena memang kondisi pada semua lini, baik individu, keluarga, lapisan masyarakat. Semuanya terjangkit penyakit, sehingga tidak bisa berbuat.

Titik awal dalam mengobati akhlak masyarakat, mulai dari pada individu masing-masing. Individu merupakan sosok awal untuk melangkah ke tahap berikutnya. Seruan Ishlahiah (perbaikan) dimulai dengan cara memperbaiki individu, bukan masyarakat langsung. jadi kalau ingin menanam sebuah pohon agar tumbuh dengan bagus, tentu bibitnya harus sehat tidak berpenyakit.

Ishlah (perbaikan) terhadap individu beberapa orang saja dalam sekup sebuah desa atau tempat. Akibatnya adalah luar biasa bagi perubahan dalam tatanan masyarakat setempat.  Mereka yang sudah baik dalam pemahaman Islam akan menularkan kebaikan itu kepada masyarakat sehingga tetap dalam Istiqomah untuk menggapai hidayah Allah.  Akan bersih sosial masyarakat itu akibat tercemar oleh kebaikan yang ditularkan oleh mereka yang berpegang teguh pada Allah.

Mereka yang membangun peradaban, negara, membrantas kejahiliahan (kebodohan), membuka wawasan ilmu, mereka yang merubah sejarah, peristiwa besar dalam hidup insani. Mereka-mereka adalah orang-orang yang terdiri dari : pertama, individu yang kuat kemauannya, kedua, Istiqomah akhlaknya dalam kebaikan, ketiga, hidupnya bersih dari pada penyakit diri dan hati.

Ketiga unsur tersebut merupakan penopang dalam rangka gerakan perbaikan (harakatul Ishlah), inqilab (perubahan total) masyarakat yang mulia.  Masyarakat diibaratkan sebagai tubuh yang juga membutuhkan akal dan kepala untuk berpikir. Sama seperti mobil terbuat dari  berbagai unsur terkecil dan besar, namun mobil tidak akan jalan apa bila tidak ada sopirnya. Begitulah istilahnya ketiga unsur itu adalah penopang kebaikan dalam tatanan masyarakat.

Dari pribadi yang sholeh selalu saja memikirkan bagaimana mencipatakan lingkungan yang baik, maka keinginan mendirikan mesjid, sekolahah, universitas, perkumpulan. Maka didirikan masjid, sekolah dan perkumpulan, adalah saling mendukung satu sama lainnya. Di masjid membangun jiwa, sekolah membangun akal, perkumpulan membangun akhlaknya. Ketika hilangnya fungsional dari pada ketiga komponen (masjid, sekolah, perkumpulan)  maka akan terjadi kerusuhan, kegoncangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Fungsi  masjid mempunyai peranan yang terpenting dalam membentuk kepribadian yang sholeh.  Dan fungsinya sebelum di bangun sekolah dan perkumpulan. Sebagaimana telah di contohkan oleh rasulullah ketika di  Madinah, maka pertama yang dibangun oleh beliau adalah masjid. Sehingga dari masjid itu mengeluarkan para pahlawan yang benar-benar ingin memiliki masyarakat bersih dari kebodohan dan kerusakan. Bagaimana Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Kholid bin Walid, Saad bin Abi Waqhos mereka adalah produk dari masjid yang rasul bangun.

Sejarah membuktikan bahwa dahulu fungsional masjid adalah multi guna, masjid sebagai sekolahan, tempat menyelesaikan perkara, latihan perang, berdagang, rapat, dll. Mesjid sebagai sekolahan adalah  terbukti pada masjid-masjid besar seperti, Al Azhar, Madinah, Qodobah dan Umawi.  Mereka belajar membentuk halaqoh-halaqoh (dibimbing satu guru).  Sehingga di buktikan dalam sejarah bahwa masjid Qordobah (spanyol) memiliki ribuan tiang-tiang penyanggah, namun tiap tiang tersebut duduk seorang guru dan murid-murid belajar.

Dalam zaman modern ini penuh dengan penyakit-penyakit yang aneh terjadi, menurut ilmu psikologi terjadi kegalauan, kesedihan, stress, urat syarat terganggu, egois, kriminalitas akhlak. Semua ini memerlukan pengobatan yaitu kembali kepada agama. Memerlukan perjalan spiritual denganmenghidupkan masjid bagi masyarakat modern.

Maka nabi selalu saja menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan bila masuk sholat tiba. Berkata “kabarkan gembira buat kami ya Bilal”. Itulah sifat nabi dalam menyambut sholat dengan hati gembira dan menginginkan serta menanti sholat demi sholat.  Maka seorang ahli ibadah Ibrahim bin Adham ketika sholat malam bermunajat dan berkata “ Kami dalam kenikmatan, seandainya para raja mengetahuinya maka kami akan di bunuh”.

Kenikmatan dan ketenangan inilah sebenarnya yang diperlukan oleh para penderita penyakit di era golbalisasi. Telah hilang dari masyarakat sekarang dari neraca hak, keadilan, kemulian dalam sistem masyarakat adalah rasa tanggung jawab terhadap kenikmatan dalam beribadah.

Posted in Materi Keislaman | Leave a comment