Jadwal Khotib Jumat SGB Bulan Februari 2016

5 Februari 2016 (azan 12:54) : Supardi Hasanuddin

12 Februari 2016 (azan 12:54) : Yorga Permana

19 Februari 2016 (azan 12:53) : Gustiandi

26 Februari 2016 (azan 12:53) : Erlis Saputra

Posted in Khutbah Jumat SGB | Leave a comment

Diskusi SGB Bersama KBRI: Perlindungan WNI di Luar Negeri

Pada hari Sabtu 23 Januari 2016 lalu, Stichting Generasi Baru mengadakan diskusi dan silaturahmi bersama KBRI Belanda. Diskusi yang dihadiri oleh puluhan warga dan pelajar di Kota Utrecht tersebut mengambil tema tentang perlindungan dan keamanan warga Indonesia di Luar Negeri. Turut hadir dalam acara tersebut Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Belanda Bapak Ibnu Wahyutomo beserta jajarannya antara lain atase pertahanan, atase kepolisian, fungsi politik, dan fungsi konsuler-protokoler.

Acara dibuka oleh Supardi selaku Ketua SGB Utrecht. Dalam sambutannya, Supardi memperkenalkan komunitas SGB sebagai komunitas warga muslim Indonesia di Utrecht yang bertujuan menjadi perekat antara komunitas masyarakat Indonesia yang ada di Utrecht dan sekitarnya. Supardi juga menyampaikan salah satu rencana SGB Utrecht ke depannya, yaitu membangun pusat kebudayaan Indonesia dan masjid Indonesia di Utrecht.

Acara ini juga dihadiri oleh komunitas muslim Belanda yang tergabung dalam pengajian Bina Dakwah. Jeroen de Graaf mewakili komunitas Bina Dakwah menceritakan kegiatan Bina Dakwah dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Utrecht dengan bekerja sama dengan komunitas gereja dan masjid di Utrecht. Jeroen pun mengapresiasi kegiatan diskusi bersama KBRI yang diselenggarakan oleh SGB ini.

Diskusi bersama KBRI yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut berjalan cukup hangat. Peserta cukup antusias bertanya maupun mengemukakan pendapatnya terkait tema kegiatan seputar perlindungan dan keamanan warga Negara Indonesia di Belanda. Dalam sambutannya, Ibnu Wahyutomo mengapresiasi SGB yang telah menjembatani dialog antara pemerintah Indonesia yang diwakili oleh KBRI dengan masyarakat Indonesia di Utrecht. Ibnu menekankan bahwa KBRI berfungsi sebagai rumah untuk warga Indonesia di Belanda. Oleh karena itu, Ibnu menghimbau warga Indonesia di Utrecht untuk tidak segan-segan berkunjung dan bersilaturahmi ke KBRI.

Salah satu topik yang cukup menarik dalam diskusi tersebut adalah mengenai Hotline KBRI yang merupakan fasilitas untuk warga yang memiliki persoalan terkait perlindungan dan keamanan di luar negeri. Melalui hotline tersebut KBRI berkomitmen membantu mecarikan solusi untuk permasalahan-permasalahan yang ada. Warga Indonesia di Belanda dapat menghubungi Hotline KBRI tersebut di +31628860509 (WA/SMS/Telepon) atau +31703108176 (Khusus Telepon).

Selain itu, isu OTT (Orang Tidak Terdokumentasi) menjadi topik yang hangat dalam dialog tersebut. Selama ini, Ibnu menyayangkan keberadaan OTT yang terkesan menutup diri terhadap KBRI. Padahal, KBRI selalu menerima setiap warga Negara Indonesia di Luar Negeri dengan terbuka, tidak terkecuali OTT. KBRI berkomitmen melindungi dan membantu permasalahan yang dihadapi oleh OTT yang ada di Belanda.

Terakhir, isu tentang penanganan terorisme juga menjadi bahasan yang menarik. Atase Kepolisian mengingatkan peserta diskusi untuk menjaga diri dan turut waspada dengan isu terorisme. Jika suatu saat terjadi keadaan darurat terkait terorisme di Belanda, ia menghimbau kepada warga Indonesia agar tidak panik dan untuk sementara menjauhi pusat keramaian.

(Yr/Sis)

Posted in Liputan Kegiatan | Leave a comment

“Perlindungan WNI di Luar Negeri: Upaya Sistemik Pemerintah Yang Berkesinambungan”

Stichting Generasi Baru Utrecht bekerjasama dengan KBRI Den Haag, mengundang WNI Utrecht pada khususnya dan WNI di Belanda pada umumnya untuk menghadiri kegiatan diskusi dan dialog dengan tema “Perlindungan WNI di Luar Negeri: Upaya Sistemik Pemerintah Yang Berkesinambungan”, yang akan diselenggarakan pada
Hari/ tanggal: Sabtu, 23 Januari 2016
Waktu: 13.00 – 16.00 CET
Tempat:  di Gedung Serbaguna SGB Utrecht,  De Bazelstraat 31, 3555 CR, Utrecht.

Semoga kegiatan ini bisa memberikan informasi dan diskusi secara langsung sebagai upaya perlindungan dari pemerintah Indonesia kepada WNI di Belanda.
(Kontakperson : Dian Syahroni  +31 6 48782809)

 

Posted in Liputan Kegiatan | Leave a comment

Fatwa Baru untuk Umat Islam di Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Bagaimanakah Anda berpuasa Ramadhan bila berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam? Misalnya, seperti yang terjadi di Kota Tromso, di jantung wilayah utara Norwegia. Pada periode akhir Mei hingga akhir Juli, kota kepulauan yang dikelilingi pegunungan yang tertutup salju ini mengenal apa yang disebut fenomena ‘matahari tengah malam’, yakni matahari tidak terlihat terbenam hingga tengah malam. Di kota yang berada sekitar 250 km sebelah utara Lingkaran Arktik, Norwegia, ini kini terdapat sekitar 1000 Muslim.
Atau, bagaimana Anda berpuasa di negara yang waktu siangnya sangat panjang hingga mencapai 21 jam seperti di Denmark, Swedia, Norwegia, dan Islandia?

Subhanallah. Maha Suci Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan siang dan malam serta sore dan pagi. Maha Suci Allah, yang telah menciptakan waktu yang berbeda-beda di antara negara-negara. Pada bulan Ramadhan sekarang ini misalnya, ada negara yang siangnya sangat panjang dan sebaliknya ada pula negara yang siangnya sangat pendek.

Di Denmark misalnya, durasi waktu fajar hingga Magrib mencapai 21 jam, sementara di Swedia, Norwegia, dan Islandia rata-rata mencapai 20 jam, di Inggris 18 jam 59 menit, dan di Jerman 18 jam 9 menit.  Sedangkan di Argentina jarak waktu fajar hingga Maghrib hanya 12 jam 21 menit, di  Brasil dan Cile 12,5 jam hingga 13 jam. Di Kanada 18 jam 9 menit, sementara di Amerika Serikat, tepatnya di Washington DC durasi fajar hingga Maghrib 16 jam 44 menit.

Sedangkan di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi 16 jam 13 menit, Uni Emirat Arab 15 jam 23 menit, dan Kuwait 15 jam 59 menit. Namun, di bulan Ramadhan ini suhu udara di negara-negara ini diperkirakan bisa mencapai di atas 50 derajat celsius alias setengah panas air mendidih. Sementara itu di negara-negara Afrika, seperti di Mesir, Tunisia, dan Aljazair jarak waktu fajar hingga Maghrib mencapai 16-17,5 jam tiap hari.

Bagaimana di India dan Pakistan? Di dua negara itu jarak waktu fajar hingga Maghrib mencapai 17 jam dan 16,5 jam. Sedangkan di wilayah Asia-Rusia waktunya hampir sama dengan di Eropa, yakni 20 jam 49 menit. Durasi paling pendek terjadi di Australia, yakni hanya 10 jam.

Lalu bagaimanakam umat Islam di negara-negara tersebut menjalankan puasa Ramadhan sekarang?

Kata Sheikh Hussein Muhammad Halawa, Sekjen Majelis Eropa untuk Fatwa dan Riset (The European Council for Fatwa and Research/ECFR), Islam itu agama yang mudah. Mengutip surat al Baqarah 185, ia mengatakan, ‘‘Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’’

Di ayat sebelumnya, al Baqarah 184, Allah SWT berfirman, ‘‘Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.’’

Atas dasar ayat Alquran itu, lanjut Sheikh Halawa sebagaimana dikutipAljazeera.net, ECFR perlu mengeluarkan fatwa untuk umat Islam yang berada di Eropa, terutama di negara-negara yang siangnya sangat panjang. Fatwa ini dirilis setelah ECFR mengadakan konferensi internasional di Dublin, ibukota Irlandia, pekan lalu.

Konferensi ini melibatkan para ulama, ahli fikih, psikolog, dokter, dan ahli falak. Sebelum pertemuan, delegasi ECFR telah pergi ke wilayah utara Swedia dan Norwegia, di mana matahari tidak pernah terbenam. Sheikh Halawa menyebut fatwa yang dikeluarkan ECFR kali ini adalah ‘fatwa baru untuk umat Islam Eropa’.

ECFR merupakan sebuah lembaga yang berbasis di Dublin. Ia dibentuk di London pada 1997 oleh Federasi Organisasi-organisasi Islam di Eropa (Federation of Islamic Organizations in Europe/FIOE). Salah seorang penggagasnya adalah Sheikh Yusuf Qardhawi, ketua Persatuan Ulama Dunia. Anggota ECFR terdiri dari para ulama dan cendekiawan Muslim.

Di antara fatwa yang baru dirilis terkait umat Islam yang berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam, adalah agar mereka mengambil waktu di hari-hari yang siang dan malam sama panjang, sebagai ukuran menentukan waktu puasa dan shalat di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, waktu-waktu ibadah puasa Ramadhan disesuaikan dengan bulan-bulan di mana durasi siang dan malam sama.

Sedangkan di negara-negara yang malamnya sangat pendek di mana tanda fajar tidak jelas dan tidak cukup untuk shalat Isya, tarawih, sahur, ECFR menfatwakan dua hal. Pertama, melihat hari terakhir di mana tanda terbit dan tenggelamnya matahari, serta waktu Isya cukup jelas, untuk dijadikan pedoman waktu-waktu ibadah Ramadhan. Waktu yang demikian biasanya terjadi pada akhir April atau awal Mei.Kedua, untuk umat Islam di negara-negara di mana malamnya sangat pendek, diperbolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan sahur dan shalat fajar (subuh) sebelum 1 jam 5 menit dari terbitnya matahari.

Tentang pendapat bahwa di negara-negara yang siangnya sangat panjang untuk berpedoman kepada waktu Mekah di dalam menjalankan ibadah puasa, menurut Sheikh Halawah, memang ada pandangan yang demikian. Namun, lanjutnya, pendapat itu adalah ijtihad perseorangan ulama tertentu, dan tidak boleh diambil sebagai petunjuk untuk masyarakat. Alasannya, tanda shalat lima waktu di Makkah sepanjang tahun sangat jelas. Ini berbeda dengan di Eropa.

Karena itu di negara-negara Eropa yang siangnya sangat panjang, ECFR memberi fatwa tidak boleh menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar karena tandanya sudah jelas. Sedangkan shalat Magrib, Isya, dan tarawih boleh dijamak dalam satu waktu lantaran tanda waktunya tidak jelas.

Sedangkan bagi negara-negara yang tanda waktu Isya jelas namun sangat dekat dengan fajar (subuh), maka dimungkinkan untuk shalat Maghrib dan kemudian langsung shalat tarawih sebelum Isya dengan tenggat waktu 45 menit. Setelah tarawih lalu shalat Isya. Shalat tarawih dimungkinkan lebih dahulu dari Isya, lantaran tarawih dibolehkan dilaksanakan kapan saja di waktu malam.

Mengenai umat Islam yang menemukan kesulitan untuk berpuasa di siang yang panjang, Sheikh Halawa menegaskan, Islam adalah agama yang mudah.  Bagi mereka yang tidak kuat berpuasa oleh suatu sebab, termasuk siang yang panjang, diperbolehkan untuk tidak puasa dan menggantinya di hari yang lain. Namun, Sheikh Halawa menekankan bahwa puasa adalah ibadah imaniyah ruhiyah alias puasa itu untuk mengukur keimanan seseorang.

Dengan begitu, kuat atau tidak kuat seseorang berpuasa kembali kepada yang bersangkutan. Dialah yang bisa mengukur dirinya. Namun, kalau ia tidak puasa dengan sengaja dan tidak ada alasan apa pun, ia juga yang merugi, karena puasa adalah urusan hamba dengan Tuhannya.

Menggarisbawahi fatwa baru untuk umat Islam di Eropa dari ECFR itu, saya ingin menyampaikan beberapa catatan. Pertama, Islam itu agama yang mudah tapi jangan digampangin. Kedua, Islam akan selalu sesuai dengan zaman, tempat, dan kondisi. Ketiga, semua ibadah adalah terkait antara hubungan hamba/manusia dengan Tuhannya. Karena itulah, ibadah pada hakikatnya adalah untuk mengukur tingkat keimanan seseorang secara individu.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga dengan berpuasa Ramadhan dan ibadah-ibadah terkait lainnya bisa menjadikan kita sebagai manusia yang lebih berkualitas. Amin.

Posted in Materi Keislaman | Leave a comment

Buka Bersama Puasa Ramadhan SGB Utrecht

Pada hari sabtu tanggal 20 Juni 2015, diselenggarakan buka bersama warga muslim Utrecht dan sekitarnya di gedung SGB Utrecht.  Dalam acara ini, seorang pemuda warga Belanda yang masih berusia 21 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat di depan puluhan jamaah dengan dibimbing oleh Ustadz Siswanto.  Alhamdulillah, bertambah satu lagi saudara seiman kita di bulan yang penuh berkah ini.

Acara buka puasa bersama ini rutin diselenggarakan setiap hari sabtu selama bulan Ramadhan oleh SGB dengan merangkul seluruh elemen masyarakat dan PPI Utrecht. Menurut penuturan ketua SGB, Supardi Hassanudin, acara ini diharapkan dapat mempererat kekeluargaan dan persaudaraan warga muslim Indonesia yang tinggal di Utrecht. Selain itu, buka bersama ini juga dihadiri oleh komunitas muslim Belanda.

Acara dimulai dengan tilawah bersama yang dipimpin oleh Ustadz Siswanto kemudian dilanjutkan dengan tausyiah tentang pentingnya membersihkan hari di bulan Ramadhan.

 

Posted in Liputan Kegiatan | Leave a comment