Campaign Endorsement ACT

“Dengan Wakaf, Diaspora Indonesia Optimis Bangun Masjid di Utrecht”

https://globalwakaf.com/id/berita/read/315/dengan-wakaf-diaspora-indonesia-optimis-bangun-masjid-di-utrecht

ACTNews, UTRECHT, Belanda – Berbicara soal sebaran warga Indonesia yang merantau di negeri orang, Belanda bisa dikatakan negara yang banyak ditinggali oleh perantau Indonesia. Negeri Tulip ini merupakan salah satu kantung diaspora Indonesia yang cukup besar. Laman SWA pernah menyebutkan, hingga tahun 2013 setidaknya ada 1,8 juta diaspora Indonesia di Belanda. Mereka menyebar di beberapa kota-kota strategis di Belanda. Salah satunya adalah Utrecht.

Kota pelajar dan kebudayaan di Belanda ini memang menampung sejumlah besar diaspora Indonesia. Wajah-wajah melayu khas Indonesia dengan mudahnya dijumpai di ruas-ruas jalan kota Utrecht. Dalam wadah komunitas anak bangsa, mereka saling berinteraksi demi menghidupkan suasana kampung halaman di negeri rantau. Tak terkecuali bagi komunitas Stichting Generasi Baru (SGB), sebuah yayasan komunitas muslim Indonesia di Utrecht.

Sejak berdiri pada 2008, SGB sudah menjadi wadah bagi diaspora muslim Indonesia di Utrecht yang ingin untuk terus mendalami Islam di tengah kesibukan mereka di tanah rantau. Di sudut jalan De Bazelstraat lah, segala aktivitas keagamaan dan sosial komunitas muslim Indonesia di Utrecht berjalan.

Sepotong demi sepotong kisah di negeri rantau kerap mewarnai agenda kegiatan mereka. Satu kisah di antaranya adalah perjuangan mereka untuk membangun sebuah masjid. Ketua SGB Supardi Hasanuddin mengungkapkan, sejak berdirinya komunitas tersebut, harapan memiliki sebuah masjid Indonesia itu sudah ada. Terlebih lagi dengan semakin banyaknya muslim Indonesia yang menetap di Utrecht. Kebutuhan akan masjid menjadi kian urgen.

Di bangunan yang tidak terlalu luas itu, sekat-sekat didirikan untuk menciptakan beberapa ruang yang bisa difungsikan untuk kebutuhan komunitas. Salah satunya adalah musala. Musala inilah yang menjadi satu-satunya tempat bagi mereka untuk salat dan menyelenggarakan kajian Islam.

“Sekarang semakin banyak muslim Indonesia yang mengunjungi Musala SGB Utrecht ini. Makanya kami sedang berjuang sekali untuk memiliki bangunan sendiri yang didedikasikan untuk masjid sekaligus pusat kebudayaan Indonesia,” ungkap Supardi.

Diakui Supardi, beberapa masjid masih bisa ditemukan di beberapa wilayah di Utrecht. Namun, lokasi masjid-masjid tersebut cukup jauh dari pemukiman muslim Indonesia di sana. Seluruh masjid yang ada dibangun oleh beberapa komunitas imigran lainnya seperti Turki, Pakistan, dan Maroko.

“Mereka memiliki masjid yang bagus dan sangat terbuka untuk muslim-muslim lainnya. Namun, diaspora Indonesia di sini sering rindu kebersamaan antar sesama orang Indonesia. Dengan memiliki masjid sendiri, kami bisa beribadah sekaligus berkumpul melepas kerinduan akan kampung halaman,” tambahnya.

Selama 9 tahun terakhir ini, ia dan diaspora Indonesia di Utrecht terus menggalang dana demi berdirinya masjid impian mereka. Lokasi strategis dicari, rancangan desain interior pun mantap dibuat. Menurut Ketua Pembangunan Masjid SGB Utrecht Awaludin, masjid diaspora Indonesia nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kebudayaan Indonesia.

“Rencananya, di lantai lantai satu akan ada beberapa ruang yang digunakan untuk mempromosikan budaya, bahasa, dan produk kerajinan Indonesia. Lalu juga akan ada ruang pertemuan. Sementara lantai dua difungsikan sebagai masjid,” papar Awaludin.

Integrasi masjid dengan pusat kebudayaan Indonesia merupakan ikhtiar SGB untuk menjadikan masjid tak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga pusat aktivitas sosial masyarakat Indonesia di Utrecht. Lebih luas lagi, mereka juga ingin mengenalkan keindahan Islam dan budaya Indonesia kepada masyarakat lokal.

“Kita sering mengadakan kajian Islam dan kebudayaan Indonesia di sini. Yang hadir tidak hanya warga Indonesia di Utrecht, tapi juga dari kota-kota lain seperti Rotterdam, Amsterdam, Den Haag, dan Delft. Lalu ada juga komunitas muslim lainnya yang berasal dari Turki, Pakistan, dan Maroko. Belum lagi warga asli Belanda yang tertarik mempelajari Islam dan budaya Indonesia,” jelas Supardi.

Sejak Mei lalu, ikhtiar anak bangsa ini didukung sepenuhnya oleh Global Wakaf Foundation-Aksi Cepat Tanggap. Dengan kata lain, pendirian Masjid SGB Utrecht akan ditopang melalui dana wakaf.

Presiden Global Wakaf N. Imam Akbari mengungkapkan, sudah saatnya wakaf menjadi penggerak pembangunan masyarakat Islam. Apa yang diikhtiarkan oleh diaspora muslim Indonesia di Utrecht adalah bagian dari pembangunan itu. Global Wakaf melihat bahwa secara umum, pendirian masjid Indonesia di Utrecht merupakan usaha untuk mengembalikan fungsi ideal masjid.

“Di zaman Rasullulah, masjid bukan semata-mata berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat peradaban dan aktivitas umat. Di masjid, umat muslim dahulu kala membahas program-program pembangunan dan ekonomi. Maka dari itu, kami mendukung ikhtiar kawan-kawan SGB ini,” papar Imam.

Sementara itu, Supardi begitu mengapresiasi dukungan Global Wakaf terhadap pendirian masjid Indonesia di Utrecht yang ia dan diaspora Indonesia lainnya inisiasikan. Ia optimis, dukungan masyarakat Indonesia ini akan mengakselerasikan ikhtiar mereka.

“Apa yang kami ikhtiarkan saat ini adalah warisan untuk anak dan cucu kami kelak. Akan ada lebih banyak lagi diaspora Indonesia di sini. Kami tidak ingin mereka kesulitan mencari tempat ibadah dan berkumpul. Semoga dengan adanya masjid dan pusat kebudayaan Indonesia nantinya, identitas Islam dan Indonesia akan selalu melekat pada diri mereka, Insya Allah,” pungkas Supardi. []