Testimonial

Oleh Intan Ambari:

“Sujud syukur kami padaMu ya Allah dipertemukan dengan komunitas muslim di Utrecht di bawah naungan SGB Utrecht. Komunitas dimana kami bisa berinteraksi, menimba ilmu, saling mengingatkan dan saling membantu hanya dengan mengharap ridha-Nya, mengharap berkah-Nya.

Sujud syukur kami, di SGB Utrecht ini, di negara dimana muslim adalah minoritas, anak-anak kami bisa rutin berkumpul , bersilaturahim dan belajar mengaji serta mengenal Rabb-nya. Kami bisa mengenalkan kepada anak-anak kami, apa itu suatu mesjid; ngapain aja kita di mesjid; dipakai apa itu mesjid.

Mesjid SGB Utrecht saat ini kalau dibandingkan dengan kondisi di Indonesia, lebih cocok kalau disebut sebagai “mushola-plus”.

Saudara-saudaraku, dengan meningkatnya jumlah pelajar dan muslim di Utrecht, kapasitas ruangan sudah kurang mengcukupi. Karena itu, kami berniat untuk membuat tempat ini lebih dari “mushola-plus”.
Mohon doa restunya untuk pembangunan mesjid SGB Utrecht.
Mudah-mudahan menjadi mesjid yang penuh berkah, bermanfaat dan jadi salah satu dakwah yang produktif di belanda.

Seperti nasihat seorang ustadz kepada kami:
Seorang mukmin itu sadar bahwa di dalam hartanya ada hak orang lain. Dan salah satu jalan untuk mensucikan jiwanya adalah mengsadaqahkan sebagian hartanya di jalan Allah. Ini adalah salah satu tanda bahwa seorang mukmin lebih cinta kepada Allah sebagai Pemberi daripada pemberian-Nya. Dan yakinlah Allah akan melipat-lipat gandakan pahala yang kita sadaqahkan. Aamiin.

Kita tunggu partisipasi saudara-saudaraku tercinta untuk mensadaqahkan sebagian hartanya dalam pembangunan mesjid ini.”

 

Oleh Yorga Permana:

Membangun Rumah Surga di Belanda

“Sudah 7 tahun komunitas muslim Indonesia di Utrecht menyewa ruangan bekas ruko sebagai tempat belajar, berkumpul dan mengagungkan nama Allah. Agak sungkan jika kami menyebutnya masjid. Lebih layak disebut mushola. Langit-langitnya cukup rendah dan ruangannya tidak begitu besar, di hari-hari besar jama’ahnya bahkan bisa membludak sampai ke pintu masuk.

Namun, di tengah keterbatasan itu, kalau boleh saya bilang Mushola SGB ini adalah miniatur Masjid Nabawi di zaman Rosululloh atau Masjid Cordoba di zaman kekhalifahan Abdurrahman. Spiritnya mirip dengan Masjid Salman ITB, dengan skala dan konteks yang berbeda. Spiritnya adalah Mushola SGB bukan hanya dijadikan sebagai tempat ibadah mahdoh kepada Allah, tetapi juga tempat kami membangun peradaban, dimana ilmu pengetahuan didiskusikan, generasi penerus dididik, dan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah) dirajut.

Setiap hari Jumat sore diadakan Taman Pengajian Al-Quran untuk anak dan remaja. Tidak hanya anak Indonesia, siswa TPA ini juga terdiri atas anak Indo (campuran Indonesia-Belanda) bahkan warga keturunan Maroko-Turki. Mengenalkan islam kepada anak-anak di sini tentu berbeda tantangannya dengan di Indonesia. Cukup sulit menjelaskan mengapa kita shaum, sholat atau membaca Qur’an kepada anak-anak yang di lingkungan sekolahnya tidak terbiasa akan hal itu.

Syi’ar tentang aqidah, akhlak, dan Al-Qur’an jadi prioritas utama khususnya bagi kami yang tinggal sebagai minoritas di negeri yang serba bebas ini. Ganja dan prostitusi yang legal, tantangan seks bebas bagi remaja (ujar guru di sekolah: “Anak-anak jangan lupa pakai kondom ya”), hingga pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan dan agama dari kawan-kawan yang Atheis dan Agnostik rasanya sudah cukup bagi kita untuk melupakan perbedaan-perbedaan kecil seputar fiqih. Di sinilah peran sentral SGB: jadi tempat kami kembali, tempat kami berukhuwah dan belajar tentang islam bersama-sama, dan tempat kami menjaga anak-anak dan keluarga kami.

Satu tahun belakangan kami berupaya mewujudkan mimpi yang lebih besar untuk masa depan Mushola SGB. Dengan semakin meningkatnya jumlah pelajar dan Diaspora muslim Indonesia di Utrecht, kapasitas ruangan tidak lagi mencukupi, ditambah lagi harga sewa ruangan bulanan semakin tinggi. Kami bermimpi untuk mempunyai masjid sendiri, dengan kapasitas yang lebih besar dan dengan lokasi yang lebih strategis. Dengan menjadi hak milik, jatah uang sewa bulanan bisa dialokasikan untuk kegiatan dakwah lain yang lebih produktif.

Kami yakin hanya Allah-lah yang menggerakkan kita untuk beramal pun kami yakin hanya Allah-lah yang dapat membalas infaq terbaik kita untuk pembangunan masjid ini. Setiap rupiah yang kita wakafkan Insya Allah akan jadi amal jariyah, yang jadi perantara kebaikan bagi anak-anak dan keluarga kita untuk belajar islam dan semakin mengenal Rabbnya di negeri yang jauh ini.”

 

Oleh Lukman Sutrisno:

Masjid Kami

“Masjid kami tak megah, hanya bekas minimarket di lantai bawah sebuah bangunan yang disewa untuk berkumpul dan beribadah menghadap-Nya. Tak ada minaret ataupun kubah, tak ada bedug apalagi pengeras suara, fasadnya pun jauh dari istimewa. Tapi entah mengapa kami selalu merindunya, sebagaimana rindu musafir pada sumber air.

Bagi kami masjid ini seperti sepotong Indonesia di negeri Belanda, oasis Nusantara di tengah padang gurun Eropa. Jika kangen nasi dan masakan Indonesia, selepas shalat Jumat selalu ada makan-makan bersama (terima kasih saya haturkan pada para dermawan). Jika kangen ‘ngomong’ Indonesia beragam dialek, dari Jawa, Sunda, Bugis, hingga Madura ada di sana. Bahagia rasanya melihat anak-anak kecil berlarian selepas belajar mengaji, mirip suasana TPA di kampung halaman Indonesia. Oh tentu saja urusan beribadah dan kajian agama tak kami lupa.

Masjid kami ini berwarna-warni, terbuka untuk semua. Di mimbar yang sama Ustadz Salim A. Fillah memberi tausiyah hanya berselang beberapa minggu setelah seorang penggerak islam Nusantara memaparkan kegelisahannya. Selain materi-materi agama di sini kami juga membicarakan banyak hal; dari sistem transportasi di Belanda, hingga kiat-kiat magang dan mencari kerja. Bahkan pernah selepas shalat berjamaah kami mendiskusikan matematika, termasuk penerapannya pada ‘golden ratio’ yang menentukan keindahan wajah manusia.

Masjid kami saat ini tak berafiliasi pada siapa-siapa dan insyaallah akan demikian seterusnya. Ia dibangun semata-mata demi pembangunan pribadi generasi baru; anak-anak, remaja, pemuda, juga para mahasiswa. Dengannya anak-anak muda tadi tak perlu ‘menggelandang mengais-ngais hikmah’ demi dahaga spiritual. Mereka memiliki ‘rumah’ tempat kembali setelah terbang kesana kemari. Mereka memiliki rumah spiritual tempat bernaung dan bercengkerama dengan saudara dan keluarga sebangsa. Masjid ini ada supaya tak muncul generasi ‘muslim tanpa masjid’ sebagaimana kegelisahan almarhum Kuntowijoyo.

Kini kami berniat membangun masjid kami tadi. Tak hendak membuatnya jadi lebih mewah, kami hanya ingin masjid kami bisa menampung jamaah lebih banyak lagi, menyimpan al-Quran dan buku lebih banyak lagi, menaungi generasi baru lebih banyak lagi, dan menyebarkan hikmah lebih luas lagi. Tentu niat kami tadi sulit terlaksana jika kami tanggung sendiri. Karenanya dengan kerendahan hati kami mengajak Bapak/ Ibu/ Saudara membantu kami membangun masjid kami.”